29 March 2009

Bangkok (Part 1): Presenting in 4th World Teachers' Day in Thailand and 12th UNESCO APEID Conference


Mungkin inilah salah satu keuntungannya bekerja di agensi internasional yaitu bisa punya kesempatan bepergian ke luar negeri, tentunya dalam rangka perkerjaan. Kesempatan itu hadir sebenarnya tahun lalu dimana UNESCO Bangkok menggelar APEIN Conference yang ke 12 di Bangkok pada bulan Desember 2008. Namun, semua mungkin masih ingat ketika Bangkok dilanda krisis politk yang disertai dengan pendudukan bandara internasional mereka Suvarnabhumi Airport oleh para demonstran yang menuntut turunnya PM mereka saat itu Somchai Wongsawat dan akhirnya berhasil dan digantikan oleh Abhisit Vejjajiva. Pak Abhisit ini masih muda sekali yaitu berusia 44 tahun. Wah hebat ya... Alhasil, konfernesi tersebut di undur pada 24-26 Maret yang baru lalu dan berlokasi di IMPACT Mong Tung Thani, Dong Muang BAngkok, semacam JCC di Jakarta. 

Kesempatan berpartisipasi dalam Konferensi ini, 4th World Teachers' Day in Thailand and 12th UNESCO APEID Conference, memang karena saya dan rekan saya di kantor Mimy Santika akan mempresentasikan paper yang kam itulis dan diterima oleh panitia sebagai salah satu presenter dalam sesi konkuren disana. Paper yang bertema Indonesia's Innovative Teacher Training Program for Investing in the Future bertujuan membagikan pengalaman proyek DBE (Decentralized Basic Education) yang didanai USAID untuk peningkatan kualitas pengajaran dan pembelajaran. Kami kebagian presentasi di hari terakhir pagi dan sudah siap dengan apa yang akan kami sampaikan. Secara kolaboratif, Mba Mimy dan saya mempresentasikan. Diawali dengan paparan program secara umum dengan penayangan 5 slide yang disapaikan mba Mimy, saya lanjutkan tentang presentasi inti dari program teacher training DBE. Ada 3 presenter pada sesi kami, dari UNESCO dan presenter lain dari Thailand yang memaparkan tentang pengalaman ICT for Education di Thailand. Ternyata, sambutan dan interest audience justru banyak kepada kami dengan hampir selulur komentar dan pertanyaan ditujukan kepada kami berdua. Saya pikir ini karena paper kami yang meyajikan program teacher training yang terakreditasi oleh universitas mitra dan pengalaman tentang school based management. Bahkan seorang peserta dari Kamboja berujar "You're presentation and the program is fantastic. We learn best from you." 

Kami tentu meraka sangat puas dan senang sekali karena perjalanan jauh menuju Bangkok telah memberikan pengalaman positif bagi para audience yang kebanyakan juga berasal dari negeri tetangga seperti Thailand, Kambodja, Malaysia, Brunai Darussalam serta negara-negar lain yang ternyata menghadapi tantangan serupa dalam usaha-usaha meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas guru. 

19 January 2009

Mengajar Kreatif, Mengajar Dengan Variasi Aktivitas dan Alat Bantu


Beberapa waktu lalu, saya melatih beberapa guru SD yang berlokasi di SDIT Dinamika Umat, Parung. Ada sekitar 16 orang guru dan kepala sekolah dari 4 sekolah dasar islam di sekitar Parung. Tema yang diangkat adalah mengajar kreatif. Dalam pelatihan tersebut mengajar kreatif adalah memahami hakikat pembelajaran aktif (PAKEM) dan prinsip-prinsip guru yang berorientasi pada PAKEM terebut dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Guru yang PAKEM:
  • Memiliki rencana pembelajaran
  • Memahami learning style anak yang berbeda
  • Menggunakan alat peraga yang efektif dalam pembelajaran
  • Memfasilitasi pembelajaran
  • Merangsang siswa berpikir kritis
  • Mengajak siswa belajar aktif
  • Membuat pembelajaran menyenangkan bagi siswa
  • Mengevaluasi siswa dan proses pembelajaran

Beberapa aktifitas dalam pelatihan adalah variasi dalam pembelajaran menggunakan model round robin:
  • Siswa bergabung dalam satu kelompok (4 orang)
  • Setiap siswa diberikan satu spidol warna berbeda dan kertas yang telah dituliskan permasalahannya.
  • Siswa hanya menuliskan satu jawaban/opini pada setiap lembar kerja
  • Siswa memberikan lembar kerja yg sudah dituliskan jawabannya kepada rekan sebelahnya,
  • dan seterusnya berputar sehingga masing-masing siswa harus berkontribusi pada setiap lember kerja dengan soal yang berbeda
  • Guru mengawasi dan memebrikan aba-aba mulai/selesai. Lama bisa 4-5 menit
Untuk model/variasi kegiatan pada level kelas bawah SD (kelas 1) menggunakan garis bilangan untuk membantu meng-konkritkan soal-soal matematika tambah kurang.
  • Buat kartu dengan bertuliskan angka 0 - 20 pada setiap kartu
  • Bawa siswa keluar kelas, letakkan setiap kartu pada lantai berbaris dari angka 0 - 20.
  • Berikan soal, misalnya 5 + 7 (siswa berdiri pada kartu 5. Tambah 7, artinya 5 langkah maju sebanyak 7 langkah. Posisi berhenti siswa akan pada angka 12 sebagai jawaban dari soal tsb)
  • Soal pengurangan, misalnya 15 - 8 (siswa berdiri pada angka 15. Kurang 8, artinya 8 langkah berjalan mundur sebanyak 8 langkah. Posisi berhenti siswa akan pada angka 7 sebagai jawaban dari soal tsb)
Selamat Mencoba!

13 October 2008

Laskar Pelangi, Pelajaran Hebat Bagi Guru


Sangat inspiratif, menggugah dan menyentuh...Ini adalah kesimpulan saya setelah menyaksikan film Laskar Pelangi di Botani Square Bogor yang digarap oleh Riri Riza dan Mira Lesmana di akhir Ramadhan bersama istri saya sambil ngabuburit. Film yang mengisahkan kondisi pendidikan dasar di Belitong dan perjuangan 10 orang siswa pelangi di sebuah sekolah dasar Muhammadiah ini banyak diminati masyarakat Indonesia karena memiliki nilai-nilai yang menggugah dan menyentuh para penontonnya, sekaligus beberapa cuil kisah lucu dari pemeran-pemeran cilik dalam film itu.

Saya jadi teringat film tentang perjuangan guru dari Amerika yang juga di angkat dari kisah nyata dan buku yang telah beredar sebelumnya. "The Ron Clarak Stroy" adalah kisah seorang guru SD di New York yang pandai mengubah kelas "preman" menjadi kelas luar biasa karena kegigihannya dalam menerapkan sentuhan-sentuhan manajemen kelas yang sangat inspiratif dan aplikatif. Si guru sendiri memperoleh penghargaan "Teacher of the Year" dari pemerintah AS karena dedikasi dan kegigihannya. Film lainnya adalah "The Freedom Writers" yang juga mengisahkan kegigihan serta semangat pantang menyerah seorang guru SMA yang begitu "gerah" melihat siswa-siswi di sekolah dan kelasnya yang sangat rasial dan tidak punya keinginan tulus dalam belajar. Kekerasan demi kekerasan sering terjadi dan permusuhan serta saling curiga tampak setiap hari dalam lingkungan kelas dan sekolah. Pada akhirnya, si guru sukses menginspirasikan nilai-nilai keadilan, keperayaan dan saling mempercayai satu sama lain melalui metode-metode menarik dalam belajar sehingga murid-muridnya mau mulai menulis akan kisah-kisah hidup mereka dan akhirnya terbangun saling percaya satu sama lain. Walaupun harus bergulat dengan manajemen sekolah yang tidak mendukung usahanya serta mengeluarkan kocek sendiri, kisah dalam film The Freedom Writers membuktikan kegigihan adalah awal dari sebuah proses menuju perubahan dan kesuksesan.

Kembali ke Laskar Pelangi, film yang diangkat dari novel dengan judul sama karangan Andrea Hirata, si anak Belitong, ini adalah film tentang potret sebuah pendidikan dan kegigihan guru serta murid-muridnya yang pertama yang saya pikir baru ada di Indonesia. Dengan semakin kencangnya isu-isu perubahan menuju perbaikan mutu pendidikan dan guru yang beberapa tahun belakangan ini santer dihembuskan, nampaknya film ini menjadi tontonan wajib bagi seluruh guru (2,7 juta orang) serta siswa (25 juta siswa). Bayangkan bila seluruh guru menyaksikan film ini dan kemudian mengambil nilai-nilai kegigihan dan dedikasi tinggi akan pentingnya membimbing anak bangsa ini menjadi insan yang cerdas dan berakhlak, merubah cara pandang mereka tentang profesi mereka yang luhur serta terus menjadi guru hebat yang dapat menginspirasikan anak-anak mereka agar terus belajar untuk terus maju tidak terus menjadi bangsa yang terpuruk. Bayangkan juga bila siswa yang 25 juta anak itu mengambil nilai-nilai perjuangan ke-10 laskar-laskar cilik yang tidak pernah berhenti belajar walaupun jarak, keterbatasan ekonomi sampai bahkan harus menanggung bahaya (ingat Lintang yang harus menunggu buaya masuk ke habitatnya untuk bisa terus mengayuh sepedanya), dapat dipastikan bangsa ini dapat menghasilkan manusia-manusia berkaliber luar biasa yang cerdas, gigih serta berakhlak mulia karena mereka dapat menyadari ilmu-ilmu duniawi bagi pembangunan ini serta ilmu-ilmu religi yang membentuk mereka menjadi manusia yang takwa dan berbudipekerti baik. Yakin kedepan, bangsa kita ini akan memiliki pemimpin-pemimpin yang bersih, anti korup dan mengabdi pada rakyat agar terjaga dari kebangkrutan, kemiskinan dan kebodohan.

Salut dengan film Laskar Pelangi. Semoga guru dan siswa dan siapa saja dapat mengambil nilai-nilai inspiratif akan film yang telah menyedot 1,5 juta penonton ini dalam kurun waktu 2 minggu penayangannya, sehingga pendidikan bisa terus maju dengan mengutamakan nilai-nilai akhlak dan budi pekerti agar kita semua terhindar dari kehancuran. Semoga semakin banyak film-film nasional bermutu yang jauh dari angin-angin materialisme, kekerasan dan kejahatan.

Kini saya harus memiliki DVD film itu sambil menganalisanya untuk dijadikan klip-klip gugahan bagi guru dalam modul pelatihan saya...